(15/11) “Kegagalan adalah bagian dari kesuksesan.” Itulah kata-kata yang Ibu Franziska Fennert, seorang seniman asal Jerman, yang kini telah lama menetap di Indonesia, lantunkan kepada para mahasiswa UGM yang berkunjung ke Museum Antroposen.
Pada Sabtu pagi, beberapa mahasiswa UGM yang menjadi penghuni dari UGM Residence berkumpul di Asrama Ratna Kinanti 2&3 untuk berangkat bersama-sama menuju Museum Antroposen yang berlokasi di wilayah Sentulrejo, Kalurahan Bawuran, Kecamatan Plaret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kami berangkat bersama-sama dalam tiga rombongan besar mobil dengan rasa penasaran dan keingintahuan yang tinggi untuk belajar, terlebih lagi, sebagai anak muda, tentunya merupakan hal yang patut untuk disyukuri apabila kita berkesempatan untuk belajar darimanapun dan dari siapapun. Kami berangkat bersama dalam perjalanan yang memakan waktu kurang lebih satu jam dari Sleman menuju Bantul. Perpindahan dari udara hangat ke udara dingin menjadi begitu terasa, belum lagi, ketika kita mulai memasuki wilayah Bantul, kami disambut oleh kawanan domba yang berkeliaran di jalanan bertebing dan berselimut kabut. Sungguh suatu panorama yang indah.
Setibanya kami di sana, kami langsung disambut oleh matahari pagi yang memancarkan kehangatan. Nampaknya, kehangatan juga terpancar dari senyuman Pak Lurah, Bu Franziska, dan para pekerja yang ramah tamah menyambut kedatangan kami. Oh, betapa tenang dan positif energi yang mereka pancarkan kepada dunia kami, membuat dingin tak lagi begitu berarti. Kami lantas duduk bersama, mendengarkan arahan dari Fasilitator, kemudian berbaris menuju tempat pengolahan sampah di bawah Museum Antroposen. Pihak manajer memaparkan materi mengenai proses pemilahan sampah dengan amat menarik.
“Sampah-sampah ini dikumpulkan dan dikirim dari kota,” kata Bapak Manajer dengan kesedihan yang terpaut di raut wajahnya. Sampah-sampah ini kemudian akan “digiling” dalam mesin bersuhu yang amat panas agar bisa mengeluarkan abu dan pipihan-pipihan. Nah, kemudian, dari abu dan pipihan-pipihan tersebut, nantinya akan dicairkan kembali kemudian dicetak menjadi batu bata yang kokoh dan bernilai guna yang tinggi.
Bu Franziska kemudian memaparkan sebuah cerita yang menarik, yakni, “Kami memiliki kerjasama yang erat dari Kementerian Luar Negeri Jerman, di mana salah satu isi dari kerjasama tersebut adalah adanya bantuan dana sebesar Rp. 4 milliar sebagai investasi dalam proses pengolahan sampah serta modal awal dalam pembuatan karya seni kami di sini. Nah, dengan adanya dana tersebut, kami mampu untuk membeli mesin pengolahan sampah yang canggih langsung diimpor dari Eropa.”
Para penghuni UGM-Residence juga dijelaskan bahwa monumen yang mereka lihat pada kali pertama setibanya di Museum Antroposen, dibangun dengan susunan batu bata dari sampah. Mulai dari batu bata yang dibuat dari sampah residu yang diolah menjadi barang yang bernilai tinggi. Kokoh, kuat, dan meneduhkan.
Kami juga diberi tahu bagaimana caranya mengolah limbah menjadi suatu karya seni, bukan hanya kerajinan tangan, tetapi juga relief yang menggambarkan narasi dari bagaimana peradaban manusia telah berkembang sedemikian jauh. Nah, dari sana, pihak UGM Residence sangat peduli terhadap lingkungan, maka diadakanlah kerjasama dengan Museum Antroposen untuk menyebarkan kesadaran bersama mengenai betapa pentingnya memanusiakan lingkungan. Sebab, bagaimana bisa kita mengaku menyembah Tuhan, apabila kita tidak merawat ciptaan-Nya?