Dinamika kehidupan mahasiswa tidak hanya seputar tentang menempuh pendidikan semata, tetapi juga tentang hidup di lingkungan yang serba beragam mulai dari suku, bahasa, dan bahkan bangsa. Pluralitas semacam ini tentunya tidak serta-merta dapat diterima oleh seluruh mahasiswa. Selalu ada proses penyesuaian terhadap berbagai hal-hal yang bersifat baru dan asing. Maka tidak mengherankan apabila timbul beberapa konflik dan pertikaian yang disebabkan oleh adanya perbedaan tersebut.
Mengawali semester yang baru, UGM Residence kembali mengadakan kegiatan life skill bertajuk “Nation and Character Building: Peran Gen Z dalam Mewujudkan Perdamaian dan Masyarakat Inklusif” pada hari Sabtu, 25 Februari 2023 di Asrama Ratnaningsih Kinanti 1. Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada, kegiatan tersebut dimulai dengan sambutan oleh Manajer Utama UGM Residence, Ibu Wijayanti, S.I.P, M.Sc. Beliau menyampaikan pentingnya komunikasi antara sesama mahasiswa asrama sebagai upaya mewujudkan lingkungan tempat tinggal yang kondusif dan suportif.
Kegiatan pagi itu berlanjut ke acara utama, yaitu penyampaian materi oleh Bapak Achmad Munjid, M.A, Ph.D. yang adalah seorang Kepala di Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM. Bapak Munjid memulai materi dengan diskusi kecil tentang perbedaan yang ada di Indonesia serta berbagai kasus yang ada di baliknya. Kasus-kasus tersebut terjadi tidak lain karena tingginya tingkat intoleransi masyarakat terhadap berbagai perbedaan yang ada di tengah-tengah mereka. Salah satu cara untuk membenahi sikap intoleransi tersebut adalah dengan menerima pendidikan yang baik dan memadai. Pendidikan sebagai media transfer pengetahuan dan pengalaman akan meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya keberagaman sebagai aset untuk membangun bangsa dan negara.
Bapak Munjid juga menyebutkan bahwa asrama sebagai instrumen pendidikan merupakan ruang belajar untuk mengalami dan memahami “kenyataan sosial” yang lebih luas lagi. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan untuk selalu mengasah dan mengolah potensi-potensi yang ada di dalam dirinya dengan senantiasa mengembangkan sikap toleransi. Toleran terhadap perbedaan adalah salah satu syarat untuk menjadi pribadi yang terbuka terhadap perubahan-perubahan. Sikap terbuka tersebut tentunya akan menjadi bekal bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk semakin menyadari pentingnya upaya mengenal diri sendiri dan orang lain, saling melengkapi dan saling mendengarkan, serta kerja sama antara sesama anggota masyarakat sehingga terciptanya lingkungan yang menjunjung tinggi perdamaian.
Seperti biasa, mahasiswa fasilitator kembali menghadirkan games menarik di sela-sela kegiatan sebelum akhirnya ditutup dengan sesi tanya jawab.