Suasana hangat dan penuh antusiasme terasa di Ruang Sidang Persatuan, Fakultas Filsafat UGM, Sabtu, 18 April 2026, saat ratusan mahasiswa dari berbagai latar belakang budaya berkumpul dalam agenda Diskusi Budaya Cultural Festival (CulFest) 15. Mengusung tema “Merawat Warisan, Mencipta Masa Depan: Transformasi Budaya di Era Global”, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang bertukar gagasan, tetapi juga melahirkan sebuah komitmen bersama berupa Deklarasi Budaya yang ditandatangani oleh kurang lebih 100 peserta.
Dalam rangkaian acara, kegiatan diawali dengan laporan dari Ibu Wijayanti, S.I.P., M.Sc. selaku Manajer Utama UGM Residence yang menekankan pentingnya menciptakan ruang multikultural sebagai wadah perjumpaan berbagai identitas. Ia menyampaikan bahwa melalui UGM Residence, mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara hidup berdampingan, sehingga tercipta ruang interaksi yang mendorong saling memahami dan menghargai perbedaan. Selanjutnya, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si. selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM menegaskan bahwa “kompetisi melahirkan medali, tetapi kolaborasi menghasilkan empati,” sehingga Cultural Festival menjadi ruang penting untuk membangun kerja sama lintas budaya, bukan sekadar ajang menunjukkan identitas. Senada dengan itu, Prof. Dr. Raden Roro Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum. selaku Dekan Fakultas Filsafat UGM menekankan pentingnya menjaga budaya sebagai bagian dari jati diri bangsa, serta mengajak mahasiswa untuk tidak hanya melestarikan, tetapi juga mengaktualisasikan nilai-nilai budaya agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Diskusi kemudian dilanjutkan oleh narasumber, yaitu Dr. Rizal Mustansyir, M.Hum. yang mengangkat perspektif filosofis mengenai budaya sebagai hasil refleksi manusia yang terus berkembang, serta Muhammad Ade Putra, S.Ant. yang membagikan pengalaman praktis dalam melihat dinamika budaya di masyarakat, sehingga diskusi berlangsung interaktif dan memperkaya pemahaman peserta mengenai pentingnya merawat sekaligus mentransformasikan budaya di era global. Puncak kegiatan terjadi pada sesi pembahasan deklarasi, di mana peserta secara aktif merumuskan nilai-nilai yang dianggap fundamental dalam kehidupan kebudayaan mahasiswa. Deklarasi tersebut menegaskan tiga prinsip utama, yakni pengakuan terhadap keberagaman dan pluralitas budaya, pentingnya toleransi serta dialog interkultural, dan penguatan etika serta tanggung jawab sosial berbasis nilai-nilai tradisi.
Penandatanganan deklarasi oleh sekitar 100 peserta menjadi simbol kuat bahwa generasi muda tidak hanya memahami pentingnya budaya, tetapi juga siap mengambil peran dalam menjaganya. Momen ini sekaligus menunjukkan bahwa ruang diskusi kampus mampu melahirkan kesepakatan kolektif yang bernilai jangka panjang. Dengan berakhirnya kegiatan ini, Diskusi Budaya CulFest 15 tidak hanya meninggalkan wacana, tetapi juga jejak komitmen nyata. Di tengah tantangan globalisasi, mahasiswa UGM menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar warisan, melainkan fondasi untuk membangun masa depan yang lebih beradab.
Deklarasi Budaya CulFest 15
Nilai-Nilai Fundamental:
- Menjunjung keberagaman dan pluralitas budaya, dengan mengakui bahwa setiap budaya memiliki nilai dan kedudukan yang setara dalam bingkai persatuan bangsa.
- Menguatkan toleransi serta dialog interkultural sebagai dasar hubungan antarmahasiswa dari latar belakang budaya yang berbeda.
- Menanamkan etika dan tanggung jawab sosial budaya yang berlandaskan adat dan tradisi sebagai pedoman dalam mewujudkan kehidupan yang damai dan harmonis.
Komitmen:
- Menghormati dan melestarikan budaya lokal agar tidak tergerus oleh arus modernisasi dan globalisasi, serta memastikan keberlanjutannya bagi generasi mendatang.
- Mendorong partisipasi aktif melalui kolaborasi dalam kegiatan pelestarian budaya yang berbasis pengalaman bersama.
- Mengembangkan pengetahuan budaya melalui kegiatan edukatif seperti pendidikan, lokakarya, dan publikasi guna memperluas pemahaman lintas budaya.
- Mengimplementasikan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya membangun masyarakat yang harmonis, inklusif, dan humanis.





